Rina Susanti tidak pernah membayangkan bahwa spreadsheet Excel yang ia gunakan selama bertahun-tahun sebagai akuntan akan menjadi cikal bakal bisnis kursus online yang kini menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya. Tapi itulah yang terjadi.
Perjalanannya bukan perjalanan yang instan. Ada keberanian, ada trial and error, dan ada satu keputusan kecil yang mengubah segalanya — memiliki website sendiri untuk berjualan kursus.
Dari Meja Akuntansi ke Layar Laptop
Rina bekerja sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan manufaktur selama hampir delapan tahun. Setiap hari, ia berkutat dengan laporan laba rugi, neraca keuangan, dan rekonsiliasi bank. Ia mahir. Ia cepat. Tapi satu hal yang ia rasakan setiap hari adalah rasa stagnan.
“Saya bukan tidak bersyukur. Saya cukup puas dengan pekerjaan. Tapi saya tahu skill saya bisa lebih berdampak kalau saya bagikan ke orang lain,” ceritanya.
Titik baliknya datang saat salah satu rekan kerjanya meminta Rina mengajarkan cara membuat laporan keuangan sederhana untuk usaha kecil. Rina menulis panduan satu halaman. Rekannya kagum. Lalu menyebarkannya ke teman-temannya. Permintaan pun berdatangan.
Dari situ, Rina mulai menawarkan sesi belajar online via WhatsApp dan Zoom. Muridnya terus bertambah. Omzetnya mulai terasa nyata. Dan pertanyaan besar pun muncul di benaknya: bagaimana caranya supaya bisnis ini lebih serius, lebih profesional, dan tidak bergantung hanya pada media sosial?
Masalah yang Sering Dialami Penjual Kursus Online
Sebelum punya website, Rina mengalami beberapa masalah yang mungkin terasa familiar bagi banyak orang yang berjualan kursus secara online:
Pertama, tidak punya tempat terpusat untuk menjelaskan produknya. Semua informasi tersebar di berbagai platform — Instagram, WhatsApp, Google Form, dan link pembayaran yang berbeda-beda. Calon pembeli bingung. Proses pembelian panjang dan tidak nyaman.
Kedua, terasa kurang profesional. Ketika seseorang mencari nama Rina di Google, tidak ada yang muncul selain profil media sosialnya. Tidak ada kesan bisnis yang serius. Ini memengaruhi kepercayaan calon pembeli.
Ketiga, bergantung pada algoritma. Jika Instagram tiba-tiba menurunkan jangkauan kontennya, penjualan ikut turun. Ia tidak punya kendali penuh atas audiensnya.
Solusinya ternyata sederhana: punya website sendiri.
Keputusan Belajar Membuat Website
Rina tidak punya latar belakang teknis sama sekali. Dunianya adalah angka dan laporan, bukan coding dan desain web. Tapi ia tidak menyerah sebelum mencoba.
Ia mulai belajar membuat website dari nol melalui berbagai sumber online, termasuk konten-konten di PanduanBelajar.com yang membahas cara membuat website untuk pemula dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia tidak perlu paham coding. Ia hanya perlu mengikuti langkah-langkah yang sudah tersedia.
“Saya kira bikin website itu ribet banget. Ternyata, dengan platform yang tepat, saya bisa buat website yang layak dalam waktu beberapa hari saja,” ujarnya.
Rina memilih WordPress sebagai platform websitenya. Ia membeli domain dengan namanya sendiri, menyewa hosting dengan harga terjangkau, dan mulai membangun halaman demi halaman.
Apa yang Ada di Website Kursus Online Rina
Saat websitenya sudah jadi, Rina tidak asal-asalan mengisinya. Ia merancang setiap bagian dengan tujuan yang jelas.
Halaman Beranda menyambut pengunjung dengan penjelasan singkat siapa Rina, apa yang ia tawarkan, dan mengapa kursusnya berbeda dari yang lain.
Halaman Kursus menampilkan semua produk yang ia jual — mulai dari kursus dasar pembukuan untuk UMKM, kelas laporan keuangan untuk freelancer, sampai paket mentoring privat satu bulan. Setiap kursus dilengkapi deskripsi jelas, harga, dan tombol pembelian.
Halaman Testimoni memuat ulasan nyata dari murid-muridnya. Ini terbukti menjadi salah satu faktor paling penting dalam meyakinkan calon pembeli baru.
Halaman Blog berisi artikel-artikel seputar keuangan, akuntansi sederhana, dan tips bisnis untuk UMKM. Konten ini membantu websitenya ditemukan di Google secara organik.
Dan yang paling penting: semua proses pembelian — dari klik sampai transfer sampai akses materi — bisa dilakukan langsung di websitenya. Tidak perlu bolak-balik platform.
Hasil yang Ia Capai
Enam bulan setelah websitenya live, angka yang Rina capai jauh melampaui ekspektasinya.
Penghasilan bulanannya dari kursus online meningkat hampir tiga kali lipat dibanding saat ia masih berjualan via WhatsApp saja. Lebih dari separuh pembeli barunya datang dari hasil pencarian Google — artinya, orang-orang yang tidak mengenal Rina sebelumnya pun bisa menemukan dan membeli kursusnya.
Yang lebih penting lagi: ia tidak lagi takut kehilangan akun media sosial. Websitenya adalah asetnya sendiri. Email list yang ia bangun dari form pendaftaran di website kini sudah memiliki lebih dari 1.200 subscriber aktif.
Belajar Membuat Website Itu Investasi, Bukan Biaya
Banyak orang menunda punya website karena menganggapnya mahal atau terlalu teknis. Rina membuktikan bahwa anggapan itu tidak selalu benar.
Total biaya yang ia keluarkan di awal — untuk domain dan hosting selama satu tahun — tidak sampai satu juta rupiah. Dibandingkan dengan penghasilan tambahan yang ia dapatkan setelahnya, investasi itu kembali dalam hitungan minggu.
Belajar membuat website memang membutuhkan waktu dan sedikit usaha, tapi hasilnya jauh lebih berdampak daripada terus bergantung pada platform orang lain. Ini yang selalu Rina tekankan kepada teman-temannya yang juga ingin serius membangun bisnis kursus online.
“Website itu bukan sekadar alamat online. Itu adalah etalase bisnis kamu yang buka 24 jam, melayani pembeli dari mana saja, tanpa kamu harus terus standby di depan HP,” kata Rina.
Dan ia benar.
Apa yang Bisa Kamu Pelajari dari Kisah Rina
Rina bukan orang dengan background teknis. Ia bukan desainer, bukan programmer, bukan juga digital marketer. Ia hanya seseorang yang punya skill berharga, kemauan untuk belajar, dan keberanian untuk memulai.
Jika kamu saat ini punya keahlian — entah itu memasak, mengajar bahasa, berjualan online, atau bahkan hal-hal yang kamu anggap biasa — ada kemungkinan besar orang lain mau membayar untuk belajar dari kamu.
Yang kamu butuhkan adalah tempat yang layak untuk menjual ilmu tersebut. Dan website adalah jawabannya.
PanduanBelajar.com menyediakan berbagai panduan praktis untuk membantu kamu memulai, mulai dari cara membuat website pertama kamu, cara menulis konten yang menarik, sampai cara mempromosikan kursus online agar lebih banyak orang mengenal dan membeli produk kamu.
Langkah pertamanya sederhana: tentukan skill apa yang ingin kamu ajarkan. Lalu mulai bangun platform kamu sendiri.